Pernikahan dalam Islam

Ahmet Sukker

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar kebutuhan biologis atau sosiologis; ini adalah ikatan suci dan bentuk ibadah yang dibangun di atas cinta, kasih sayang, dan upaya mencari ridha Allah. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad (SAW) mendefinisikan ikatan ini sebagai tempat berlabuh di mana kita menemukan kedamaian di dunia, serta sebagai jembatan yang mengantarkan pada kebahagiaan di akhirat.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Surah Ar-Rum, 21)

Islam tidak memandang pria dan wanita sebagai saingan, melainkan sebagai dua makhluk yang saling melengkapi, melindungi, dan memperindah. Keadilan, rasa hormat, dan kelembutan adalah hal yang mendasar dalam pernikahan.

“…Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…” (Surah Al-Baqarah, 187) (Ayat ini menjelaskan bahwa suami istri, layaknya pakaian, harus saling menutupi aib, melindungi satu sama lain dari kesulitan dunia luar, dan menjadi perhiasan bagi pasangannya.)

Islam telah memberikan tanggung jawab khusus kepada pria maupun wanita untuk menjaga keharmonisan keluarga. Sementara tugas pria adalah mencari nafkah keluarga dengan cara yang halal dan menjadi pelindung, tugas wanita adalah menjaga kedamaian dan ketertiban di dalam rumah. Namun, aturan paling dasar bagi kedua belah pihak adalah “bergaul dengan baik”.

Seorang suami harus bersikap lembut, penuh pengertian, dan murah hati kepada istrinya. Islam sangat melarang mengangkat tangan (memukul) wanita atau merendahkannya.

Ayat Al-Qur’an: “…Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) menurut cara yang patut…” (Surah An-Nisa, 19) Hadis: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap istriku.” (HR. Tirmidzi)

Di sisi lain, seorang istri menghormati hak-hak suaminya, menjaga kehormatan keluarga, dan privasi rumah tangga.

Hadis: “Dunia adalah perhiasan (kesenangan sementara). Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang salihah.” (HR. Muslim)

Salah satu hasil terindah dari ikatan pernikahan adalah memiliki anak. Dalam Islam, anak adalah titipan suci (amanah) dari Allah kepada ibu dan ayahnya. Mendidik mereka dengan akhlak yang baik adalah investasi untuk masyarakat dan juga untuk akhirat.

“…Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surah Al-Furqan, 74) “Tidak ada pemberian (warisan) yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya selain pendidikan (akhlak) yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Dalam Islam, keluarga adalah masjid kecil, tempat berlindung yang damai. Ketika cinta yang saling berbalas, rasa hormat, kesabaran, dan ridha Allah menjadi fondasi sebuah rumah tangga, maka rumah tersebut menjadi sekeping surga di dunia dan membawa pasangan suami istri menuju kebahagiaan abadi di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi kita (SAW), bahkan ketika suami istri saling memandang dengan penuh cinta, hal itu dihitung sebagai sedekah dan bernilai ibadah.

Related Posts

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?